Tiwul Gunungkidul
Gunungkidul
saat itu, dengan kondisi alamnya yang tandus menjadi lahan yang tidak
tepat untuk bertanam padi, namun membuat tanaman ketela pohon / ubi kayu
tumbuh subur di sana. Oleh karena itu, bagi masyarakat Gunungkidul,
ketela adalah makanan pokok pengganti nasi. Dengan kemampuan berinovasi,
ketela diolah menjadi makanan yang memiliki rasa mirip dengan nasi.
Hanya saja teksturnya lebih kecil dan berbentuk bulat-bulat kecil.
Bagi
yang belum pernah mendengar, nama makanan ini terdengar lucu: Tiwul.
Terbuat dari tepung gaplek, yaitu ketela yang dikeringkan. Tiwul adalah
makanan khas dan sempat menjadi makanan pokok masyarakat Gunungkidul.
Makanan yang dahulu sempat diidentikan dengan kemiskinan, sekarang mampu
menembus batas gengsi. Tiwul bukan lagi sekedar makanan pengganti nasi,
namun sudah menjadi kuliner yang banyak dicari.

Keistimewaan
Tiwul ada pada rasanya yang manis dan gurih. Selain itu, di dalam tiwul
juga dapat dirasakan aroma gula merah yang berpadu dengan kelapa parut.
Bentuknya yang terdiri dari gumpalan butiran-butiran kecil dan sedikit
kenyal membuat makanan khas ini nikmat disantap. Sangat pas dihidangkan
saat masih hangat, dengan taburan serutan kelapa muda.
Cara
mengolah ketela menjadi tiwul cukup sederhana. Pertama-tama, ketela
pohon dikupas, kemudian dijemur sampai kering. Ketela kering ini disebut
gaplek. Kemudian gaplek tersebut dihaluskan hingga menjadi tepung. Pada
jaman dahulu, proses ini dilakukan dengan cara sederhana dan lama.
Gaplek ditumbuk menggunakan lumpang batu hingga menjadi tepung. Namun
saat ini sudah ada mesin penggilingan khusus, sehingga lebih cepat dan
kehalusan tepung lebih seragam. Tepung singkong – atau disebut tepung
tapioka – tersebut lalu diberi campuran air dan gula jawa, kemudian
diaduk di atas tampah hingga membentuk butiran-butiran kecil, kurang
lebih seperti butiran nasi.
Kemudian
dilakukan proses yang disebut ditinting. Proses ini seperti mengayaki
butiran beras. Butiran-butiran tiwul diletakkan di dalam tampah,
kemudian diayak dan dilempar-lempar hingga butiran kasar dan halus
menjadi terpisah. Dibutuhkan keahlian khusus untuk melakukan proses ini.
Setelah
itu, butiran tiwul halus diletakkan dalam kukusan dari kulit bambu.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah, perlu dibuat lubang di
tengah tiwul tersebut yang fungsinya sebagai jalan keluar uap air saat
dikukus. Setelah siap, tiwul dikukus selama kurang lebih 30 menit.
Untuk memperoleh rasa yang lebih gurih, tiwul dikukus dengan
menggunakan kayu bakar.
harga : Rp 30.000

Tidak ada komentar:
Posting Komentar